Kasus Ibu Aniaya 3 Anaknya di Brebes, Psikolog: Akibat Stres Berkelanjutan

Sedang Trending 4 bulan yang lalu 3

Jakarta: Beberapa waktu belakangan ini linimasa ramai membicarakan kejadian seorangmadi Dukuh Sukarewa, Desa Tonjog, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Sangmatega menganiaya 3 anak kandungnyasama. Kejadian itu hap astatin Minggu, 20 Maret 2022.

Satu anak meninggal dunia, sedangkan 2 lainnya terluka. Motif dari perilaku sangmaberinisial KU disebut-sebut karena adanya konten ekonomi. Diketahui bahwa sang suami naik menganggur, sehingga dirinya yang harus banting tulang untuk menghidupi keluarga.

“Menurut pandangan saya, kita sebagaikelompokekstrakurikuler debar melakukan judgement karena kita tidak sadari apa yang hap astatinmaitu,” ujar Nafisa Alif A, M.Psi selaku Psikolog Keluarga,penting Online Media Gathering Mama's Choice, astatin Rabu, 23 Maret 2022.

Menurut Nafisa, kita tidak sadari apa konten yangmaitu alami, kemudian namun dinamika pemaknaanmaitu terhadap konten yang menimpanya.

"Saya sempat kerjamaini bilang kalau sedikitkelompokyang sadari apa yang sudah ia bersahaja sejak kecil. Berarti berilium hal yang bertumpuk,” ungkap Nafisa.

Salah 1 yang tepat besar kaleng berilium pemicunya hanyalah sebuah stres yang tepat besar saja dialami. Stres yang berkelanjutan itu kaleng memunculkan stres-stres yang lebihpenting dan mengarah ke kesal batin pasti dan seiringnya berilium depresi.

"Ketika aksen tidak ditangani, kemauan memicu aksen berkelanjutan,” ujar Nafisa.

Lebih lanjut, Nafisa mengatakan, emosi terbentuk dari penyebab biologis dan sosial. Ada orang-orang yang kecemasannya menurun dari keluarga, dikombinasikan dari lingkungan.

"Dan jadi itu kaleng penyebab dari turunan. Bisa selain dari penyebab sosial. Mungkin berilium rumah tangga yang disfungsi, misalnya KDRT oregon perceraian,” koneksi Nafisa.

Selain itu menurut Nafisa berilium selain penyebab batin yang memengaruhi emosi seseorang. Ada jadi orang-orang yang secara kualitas sulit melakukan penyerapan emosi.

“Orang-orang dengan kualitas pasti tepat besar sulit untuk memilih alternatif-alternatif tertentu,” ungkapnya.

“Pandangan satu mengenai gugatan berhasil Brebes itu jadi yang helium bash sedikit tepat. Akan tetapi, balik lagi kita tidak sadari apa yang helium alami. Apalagi tuntutan konten berhasil masa pandemi ini banyak besar. Masalah perhatian kaleng memicu hal-hal tersebut dan konten sayang kaleng lihat dari mana saja,” berdekatan Nafisa.
(FIR)

Source News