Pencarian Berita

Berita

Celios Desak Pimpinan OJK dan BEI Mundur di Tengah Ancaman Penurunan Peringkat MSCI

Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, meminta pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) melepaskan jabatan mereka menyusul rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) menurunkan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Desakan itu disampaikan Bhima pada Sabtu, 17 Oktober, dengan alasan otoritas pasar modal dinilai belum mampu memperbaiki tata kelola, keterbukaan informasi, dan perlindungan bagi investor.

Bhima menilai ancaman dari MSCI tidak bisa dipandang sebagai isu teknis di bursa semata. Ia menyebut peringatan tersebut menunjukkan adanya masalah yang lebih dalam dalam pengelolaan pasar modal Indonesia. Dalam pandangannya, langkah-langkah yang dilakukan sejauh ini belum cukup menjawab kekhawatiran investor global terhadap kualitas pengawasan dan kepastian aturan.

Ia juga menyoroti perubahan aturan di BEI yang, menurutnya, hanya menyentuh sisi administratif sejak pembekuan sementara MSCI pada 27 Januari 2026. Bhima menilai pembaruan semacam itu belum diikuti perbaikan praktik yang benar-benar melindungi pasar. Karena itu, ia menyebut kondisi yang terjadi justru membuat posisi bursa saham Indonesia makin rawan.

Salah satu contoh yang ia angkat adalah aksi akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Menurut Bhima, peristiwa itu memperlihatkan bahwa transparansi dan perlindungan terhadap pemegang saham minoritas belum menjadi perhatian utama. Ia juga mengkritik lemahnya sanksi bagi emiten atau pihak yang diduga menjalankan praktik yang merugikan pasar.

Bhima menyebut tidak ada hukuman yang benar-benar berat terhadap perusahaan yang melakukan pelanggaran di bursa. Dalam situasi seperti itu, kata dia, pasar akan sulit meyakinkan investor bahwa aturan benar-benar ditegakkan secara konsisten. Ia bahkan membandingkan posisi bursa Indonesia dengan pasar saham di Burkina Faso, yang menurutnya masih berada pada level frontier market.

Selain faktor tata kelola, Bhima menilai rencana Danantara untuk membeli saham BEI dalam skema demutualisasi juga bisa menambah persoalan baru terkait independensi bursa. Ia menegaskan bahwa Danantara merupakan entitas yang mendapat dukungan negara, sehingga keberadaannya dapat memunculkan pertanyaan mengenai jarak BEI dari kepentingan pemerintah. Bhima menambahkan, jika penilaian MSCI berlanjut, dampaknya tidak hanya terasa di pasar keuangan, tetapi juga dapat menekan nilai tukar rupiah, menaikkan biaya kebutuhan pokok, serta mengurangi peluang kerja formal di sektor industri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi diberi tanda *