Revitalisasi yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum berhasil menghadirkan wajah baru Pasar Banyuwangi. Pasar tradisional ini kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat jual beli kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata heritage dan ruang publik yang nyaman bagi warga.
Sejak resmi kembali beroperasi pada 1 Oktober lalu, suasana pasar mengalami perubahan yang cukup mencolok. Pada pagi hari, aktivitas utama masih didominasi oleh transaksi ekonomi warga. Pengunjung datang untuk membeli berbagai kebutuhan pokok seperti sayuran, daging, ikan segar, hingga aneka bahan masakan lain. Hiruk pikuk tawar-menawar tetap terasa, menandakan bahwa fungsi pasar sebagai pusat ekonomi rakyat masih berjalan kuat.
Namun, ketika matahari mulai turun dan berganti sore hingga malam, suasana Pasar Banyuwangi berubah total. Area yang semula ramai oleh aktivitas belanja kini menjadi tempat favorit untuk bersantai. Banyak warga datang bersama keluarga, pasangan, maupun teman untuk menikmati suasana malam, mencicipi kuliner lokal, atau sekadar duduk sambil menikmati keindahan bangunan yang kini tampil lebih estetik.
Nuansa Arsitektur Khas Osing
Daya tarik utama pasar ini terletak pada desain barunya yang mengusung sentuhan arsitektur rumah adat Osing. Karakter lokal tersebut dipadukan dengan pencahayaan lampu berwarna hangat yang membuat suasana terasa lebih hidup, terutama saat malam hari. Setiap sudut bangunan tampak dirancang agar memberi kenyamanan visual sekaligus menghadirkan identitas budaya daerah.
Di bagian depan pasar, trotoar yang lebar dilengkapi deretan kursi taman. Area ini menjadi ruang terbuka yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat, bercengkerama, atau menikmati suasana pusat kota tanpa harus terburu-buru. Kehadiran ruang publik seperti ini membuat pasar terasa lebih ramah bagi semua kalangan.
Salah satu spot yang paling banyak diminati adalah balkon lantai dua. Dari tempat ini, pengunjung bisa melihat pemandangan kota Banyuwangi dengan latar Pegunungan Ijen yang tampak indah saat senja. Ketika malam tiba, panorama tersebut semakin menarik dengan kilauan lampu kendaraan yang membentuk lanskap kota yang dinamis.
Jadi Tempat Nongkrong Baru Warga
Perubahan fungsi pasar ini langsung dirasakan oleh masyarakat. Reta, warga Kelurahan Sobo, menjadi salah satu pengunjung yang menikmati suasana baru Pasar Banyuwangi bersama suaminya pada Minggu malam, 11 Oktober. Menurutnya, atmosfer pasar kini terasa hangat dan sangat nyaman untuk bersantai.
“Suasananya hangat dan dirancang begitu nyaman. Vibes-nya seperti berwisata di luar kota. Kita di sini menikmati sajian ketan dan minuman hangat, suami juga bisa santai ngopi,” ujarnya.
Pengalaman seperti itu menunjukkan bahwa pasar tidak lagi dipandang semata-mata sebagai ruang transaksi ekonomi. Kini, Pasar Banyuwangi juga menjadi tempat berkumpul yang menawarkan pengalaman berbeda bagi warga lokal.
Menjaga Jejak Sejarah

Keistimewaan lain dari Pasar Banyuwangi adalah upaya mempertahankan unsur sejarah yang melekat pada bangunan lama. Gerbang depan pasar tetap dipertahankan sesuai bentuk aslinya sebagai bagian dari bangunan cagar budaya. Langkah ini membuat wajah baru pasar tetap memiliki hubungan kuat dengan masa lalunya.
Tidak hanya itu, kawasan pasar juga terhubung erat dengan Asrama Inggrisan, kompleks bersejarah yang pernah menjadi kantor telegraf kabel bawah laut pertama yang menghubungkan Eropa dan Australia pada 1871. Keberadaan situs bersejarah di sekitar pasar menambah nilai edukasi sekaligus daya tarik wisata bagi pengunjung yang ingin mengenal sejarah Banyuwangi lebih dekat.
Perpaduan antara arsitektur, sejarah, dan aktivitas kuliner membuat kawasan ini memiliki karakter unik. Pasar Banyuwangi kini bukan hanya tempat untuk berbelanja, tetapi juga ruang untuk belajar, menikmati suasana, dan merasakan identitas lokal yang kuat.
Menarik Wisatawan dari Luar Daerah

Pesona pasar yang baru ini ternyata tidak hanya menarik perhatian warga setempat, tetapi juga wisatawan dari luar daerah. Neneng, pengunjung asal Surabaya, mengaku datang karena penasaran setelah melihat video Pasar Banyuwangi beredar luas di media sosial.
“Awalnya tahu dari medsos karena tempatnya kelihatan sangat estetis. Setelah datang sendiri, ternyata memang asyik,” kata Neneng.
Kehadiran wisatawan seperti Neneng menunjukkan bahwa revitalisasi pasar berhasil menciptakan daya tarik baru yang melampaui fungsi tradisionalnya. Pasar kini menjadi destinasi yang mampu memancing rasa ingin tahu publik, terutama mereka yang mencari tempat dengan nuansa unik, fotogenik, dan sarat nilai sejarah.
Harapan untuk Ekonomi Lokal
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa transformasi Pasar Banyuwangi memang dirancang untuk memperluas peran pasar rakyat. Menurutnya, pasar harus menjadi pusat ekonomi sekaligus ruang interaksi sosial yang hidup bagi masyarakat.
Ia berharap kehadiran pasar yang lebih estetik dan bernilai sejarah ini dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi pedagang lokal. Dengan meningkatnya jumlah pengunjung, peluang penjualan berbagai produk dagangan pun ikut terbuka lebih luas.
Selain itu, Pasar Banyuwangi diharapkan menjadi alternatif destinasi heritage yang memperkaya pengalaman warga maupun wisatawan saat berkunjung ke Banyuwangi. Dengan konsep seperti ini, pasar tidak lagi berdiri sendiri sebagai tempat transaksi, melainkan menjadi bagian dari ekosistem wisata kota yang lebih menarik dan berkelanjutan.
Revitalisasi Pasar Banyuwangi pada akhirnya membuktikan bahwa pasar tradisional dapat bertransformasi tanpa kehilangan jati dirinya. Unsur ekonomi tetap berjalan, sejarah tetap dijaga, dan ruang publik baru pun tercipta untuk dinikmati bersama.

