📅 Jumat, 16 Oktober 2026
🔥 TERKINI Bahlil: Stok Pertalite Nasional Tinggal 16–18 Hari, Distribusi Jadi Sorotan
alreia

Fabregas Nilai Como Masih Perlu Belajar Usai Kalah dari Feyenoord di Liga Champions

🕒
⏱️ 3 menit membaca • 👀 1 views

Cesc Fabregas menilai Como masih berada dalam fase belajar setelah kalah 2-3 dari Feyenoord pada laga kedua fase liga Liga Champions di Stadion De Kuip, Rotterdam, Rabu (14/10/2026). Kekalahan ini membuat klub milik Grup Djarum itu gagal melanjutkan start sensasional mereka, meski sebelumnya sempat menang besar 4-1 atas RB Leipzig pada debut Liga Champions di Giuseppe Sinigaglia.

Como sebenarnya sempat membuka harapan lewat gol Assane Diao pada menit ke-18. Namun keunggulan itu tidak bertahan lama karena Feyenoord hanya membutuhkan dua menit untuk menyamakan kedudukan melalui aksi Gjivai Zechiel pada menit ke-20. Setelah itu, tuan rumah mengambil alih pertandingan dan membalikkan keadaan lewat gol Anis Hadj Moussa pada menit ke-52, sebelum situasi makin sulit bagi tim tamu ketika Robert Sanchez mencetak gol bunuh diri pada menit ke-81.

Tim berjuluk I Lariani baru kembali menipiskan skor pada masa tambahan waktu lewat Anastasios Douvikas di menit ke-90+3. Akan tetapi, sisa waktu yang sangat sempit membuat mereka tak sempat mengejar gol penyeimbang. Como pun pulang tanpa poin dari laga tandang pertamanya di kompetisi ini.

Fabregas mengakui bahwa pengalaman Como di Liga Champions masih sangat terbatas. Menurut dia, para pemainnya masih berada dalam tahap adaptasi, layaknya mahasiswa baru yang baru mengenal lingkungan kampus. Dari situ, ia menilai wajar bila timnya masih harus mengumpulkan banyak pelajaran sebelum benar-benar nyaman bersaing di level tertinggi Eropa.

Dalam pertandingan ini, Fabregas juga melakukan sejumlah perubahan pada susunan pemain dan pendekatan taktik. Ia mendapat sorotan karena menempatkan Nico Paz sebagai penyerang tengah semu sejak awal. Sementara itu, penyerang murni seperti Douvikas baru diturunkan pada menit ke-60, bersamaan dengan kapten Lucas Da Cunha. Rotasi itu tidak menghasilkan hasil yang diharapkan, meski Como sempat menciptakan ancaman lewat skema yang berujung pada gol pembuka Diao.

“Kami memilih strategi ini karena menganggapnya sebagai cara yang tepat untuk menyerang mereka, seperti yang terlihat pada gol Diao,” ujar Fabregas, dikutip dari Tuttomercatoweb. Ia menambahkan bahwa timnya masih harus terus berkembang dan belajar menghadapi situasi tertentu. Fabregas juga menegaskan bahwa bermain di kandang dan tandang memiliki perbedaan besar, apalagi saat menghadapi tim yang terbiasa menang di stadion sendiri.

Pelatih berusia 39 tahun itu menutup evaluasinya dengan nada realistis. Ia menyebut Liga Champions sebagai kompetisi yang sangat berat dan bahkan menilai levelnya kadang lebih tinggi daripada Piala Dunia. Meski kecewa dengan hasil di Rotterdam, Fabregas tetap melihat pengalaman ini sebagai modal penting bagi para pemain Como, terutama mereka yang baru pertama kali menjadi starter di ajang Eropa. “Kami berada di Liga Champions lima tahun lebih awal dari yang diharapkan,” tegasnya.

Penulis dan kontributor berita di alreia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *