📅 Jumat, 16 Oktober 2026
🔥 TERKINI Brasil Menang 3-0 atas Timnas Futsal Indonesia di Copa das Nacoes 2026
alreia

Stok Air Waduk Riam Kanan Kritis, Kalsel Siaga

redaksi
🕒
⏱️ 5 menit membaca • 👀 2 views

Persediaan air baku dari Waduk Riam Kanan kini berada dalam kondisi yang semakin mengkhawatirkan. Kemarau panjang dan kekeringan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda membuat volume tampungan air terus menurun, padahal waduk ini memegang peran penting bagi banyak kebutuhan masyarakat di Kalimantan Selatan.

Air dari Riam Kanan tidak hanya menjadi sumber utama pasokan air bersih bagi warga, tetapi juga dipakai untuk irigasi persawahan dan mendukung upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam situasi seperti sekarang, tekanan terhadap ketersediaan air semakin besar karena kebutuhan terus meningkat, sementara pasokan justru menipis.

Status Stok Air Baku Sudah Siaga

Pelaksana Tugas Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III, Sandi Erryanto, menyampaikan bahwa kondisi stok air baku saat ini telah masuk kategori siaga. Ia menegaskan bahwa situasi tersebut patut menjadi perhatian serius karena cadangan air tidak lagi berada pada level aman.

Menurutnya, hujan yang sempat turun melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) di beberapa wilayah belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap volume air di waduk. Hujan itu memang membantu sebagian area, tetapi belum cukup untuk mengisi kembali tampungan air yang terus berkurang akibat cuaca kering berkepanjangan.

“Stok air baku kita sekarang ini sudah kritis, dalam status siaga,” ujar Sandi pada Senin (12/10).

Peran Penting Riam Kanan bagi Banjarbakula

Waduk Riam Kanan memiliki fungsi vital bagi kawasan Banjarbakula dan wilayah hilir. Dari waduk ini, air dialirkan untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat melalui perusahaan daerah air minum (PDAM). Selain itu, airnya juga digunakan untuk mendukung pertanian dan menjaga ketersediaan air bagi lahan-lahan produktif.

Dalam kondisi normal, fungsi waduk ini sudah sangat penting. Namun saat kemarau panjang melanda, perannya menjadi jauh lebih krusial. Ketika debit air menurun, setiap pemanfaatan harus diatur dengan sangat hati-hati agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.

Sandi menjelaskan bahwa pelepasan air dari bendungan juga terbatas. Sebagian besar alokasi air harus diprioritaskan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Ir. Pangeran Muhammad Noor. Artinya, ruang pemanfaatan air untuk kebutuhan lain menjadi semakin sempit.

Karhutla di Gambut Memperburuk Situasi

Di sisi lain, kekeringan juga memperparah kebakaran lahan yang terjadi di sejumlah wilayah, terutama di kawasan Gambut, Kabupaten Banjar. Kondisi tanah yang kering membuat api lebih mudah meluas dan sulit dipadamkan.

Sandi menyebutkan bahwa dari sekitar 10.000 hektare lahan pertanian di kawasan tersebut, hampir 70 persen atau sekitar 7.000 hektare dilaporkan telah terbakar. Asap dari kebakaran itu bahkan terbawa hingga ke Kota Banjarmasin, sehingga menambah dampak bagi masyarakat luas.

“Penanganan Karhutla yang sebelumnya difokuskan di kawasan sekitar ring 1 bandara kini bergeser ke Gambut. Petugas bersama pemerintah provinsi dan aparat terkait berupaya mencari sumber air untuk membasahi lahan yang terbakar,” tuturnya.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa krisis air tidak hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga, tetapi juga langsung memengaruhi penanganan bencana. Ketika air baku terbatas, penyediaan air untuk pemadaman pun ikut terdampak. Hal ini membuat proses pengendalian karhutla menjadi semakin menantang.

Air di Bawah Ambang Batas Tidak Bisa Dimanfaatkan

Sandi menambahkan bahwa air yang berada di bawah ambang batas tertentu memang tidak dapat dimanfaatkan. Situasi ini membuat cadangan di waduk semakin terbatas untuk digerakkan ke berbagai kebutuhan. Karena tidak ada hujan yang cukup untuk mengisi ulang tampungan, kondisi waduk belum menunjukkan perbaikan.

Dalam keadaan seperti ini, pengelolaan air harus dilakukan secara sangat cermat. Setiap tetes air memiliki nilai penting, baik untuk konsumsi masyarakat, pertanian, pembangkit listrik, maupun upaya mitigasi kebakaran lahan.

Masyarakat Diminta Hemat Air

Melihat kondisi yang ada, Sandi mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijaksana dan menghindari pemborosan. Ia menekankan bahwa kebiasaan hemat air menjadi langkah sederhana namun sangat penting dalam menghadapi masa kering yang masih panjang.

Berdasarkan perkiraan yang disampaikan, kemarau panjang masih bisa berlangsung hingga November atau Desember 2026. Jika prediksi ini benar, maka tantangan ketersediaan air akan terus dirasakan dalam waktu yang tidak singkat. Karena itu, kesadaran masyarakat dalam menghemat air menjadi bagian dari upaya bersama menjaga ketahanan air daerah.

Upaya Pemerintah dan Harapan Pembangunan Infrastruktur Air

Untuk mengantisipasi kondisi yang lebih buruk, pemerintah telah mengusulkan pembangunan sumur bor atau Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) melalui instruksi presiden. Program ini diharapkan dapat menjadi solusi tambahan bagi daerah-daerah yang mengalami kesulitan air, khususnya saat musim kemarau panjang.

Meski demikian, pembangunan infrastruktur tersebut tidak bisa selesai dalam waktu singkat. Diperlukan proses perencanaan, pelaksanaan, dan penyesuaian di lapangan sebelum manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Selain itu, Sandi juga berharap pembangunan Bendungan Riam Kiwa dapat segera direalisasikan. Menurutnya, kehadiran bendungan baru akan sangat membantu memperkuat pasokan air bersih dan irigasi di Kalimantan Selatan, sekaligus mengurangi tekanan terhadap Riam Kanan yang saat ini sudah berada dalam kondisi kritis.

Situasi yang Perlu Diwaspadai Bersama

Kondisi air baku yang menipis, kebakaran lahan yang meluas, serta ancaman kemarau berkepanjangan menjadi rangkaian persoalan yang saling berkaitan. Karena itu, penanganannya pun membutuhkan kerja sama dari pemerintah, aparat, dan masyarakat.

Di tengah situasi yang belum membaik, penghematan air, pengawasan terhadap kebakaran lahan, serta percepatan pembangunan sumber air alternatif menjadi langkah yang semakin mendesak. Waduk Riam Kanan kini bukan hanya soal pasokan air, tetapi juga soal ketahanan wilayah menghadapi musim kering yang berkepanjangan.

redaksi

Penulis dan kontributor berita di alreia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *