📅 Jumat, 16 Oktober 2026
🔥 TERKINI Rosan Roeslani dan Dasco Datangi BEI Saat IHSG Tertekan Tajam
alreia

Balon Pisang di Anfield, Simbol Lama Suporter Manchester City yang Kembali Hidup

🕒
⏱️ 2 menit membaca • 👀 2 views

Laga Liverpool kontra Manchester City di Anfield pada akhir pekan itu menyajikan cerita lain di luar persaingan dua tim di lapangan. Saat pendukung tuan rumah melontarkan ejekan dan sindiran terkait kasus pelanggaran aturan keuangan yang menjerat City, kelompok suporter tim tamu justru merespons dengan cara yang tak biasa: mereka membawa dan mengangkat balon berbentuk pisang berwarna kuning. Aksi tersebut menjadi sorotan karena bukan sekadar guyonan sesaat, melainkan bagian dari tradisi lama yang pernah melekat pada identitas pendukung The Citizens.

Pertandingan itu juga tercatat sebagai penampilan pertama Manchester City di Liga Premier setelah klub dinyatakan bersalah atas pelanggaran serius terhadap regulasi finansial. Situasi tersebut membuat suasana di Anfield semakin panas. Spanduk bernada tuduhan, nyanyian provokatif, dan teriakan dari tribun Liverpool mewarnai jalannya laga, sehingga momen di sektor pendukung City dengan ratusan balon pisang mencuri perhatian penonton maupun kamera.

Bagi sebagian orang yang baru melihatnya, pemandangan itu memang tampak aneh. Namun, balon pisang sudah lama dikenal dalam kultur suporter Manchester City. Mengacu pada laporan ESPN, kebiasaan itu diyakini bermula pada musim 1987/1988, ketika City baru saja terdegradasi dari Divisi Pertama Inggris, yang saat itu menjadi level tertinggi sepak bola di Inggris. Dalam masa sulit tersebut, seorang pendukung disebut membawa balon pisang berukuran besar ke Maine Road untuk mencairkan suasana dan memberi hiburan bagi penonton.

Dari satu aksi sederhana, kebiasaan itu kemudian berkembang menjadi simbol yang mudah dikenali. Peran Imre Varadi, penyerang City pada periode tersebut, ikut membuat pisang semakin lekat dengan klub. Ia dikenal memiliki julukan “Imre Banana”, dan sebutan itu membuat benda berwarna kuning tersebut makin sering muncul di tribun. Para pendukung lalu mulai menggunakannya sebagai penanda dukungan, sekaligus cara menciptakan atmosfer yang lebih riang di stadion.

Seiring berjalannya waktu, tradisi itu menyebar di kalangan fans City, terutama pada akhir 1980-an hingga sepanjang 1990-an. Meski begitu, popularitasnya tak selalu stabil. Ketika klub berubah besar dan meninggalkan Maine Road, lalu menjalani transformasi pada pertengahan 2000-an, balon pisang perlahan lebih jarang terlihat. City pun beranjak dari klub yang identik dengan perjuangan di lapisan bawah menjadi kekuatan besar di sepak bola Inggris.

Meski sempat meredup, tradisi tersebut belum sepenuhnya hilang. Panggung Anfield memperlihatkan bahwa simbol lama itu masih hidup di ingatan sebagian pendukung. Di tengah serangan verbal dari tribun Liverpool, balon pisang menjadi cara suporter City menunjukkan kebanggaan sekaligus menegaskan identitas mereka. Aksi itu mengingatkan bahwa budaya suporter tidak hanya dibentuk oleh trofi, tetapi juga oleh kebiasaan kecil yang diwariskan dari masa ke masa.

Penulis dan kontributor berita di alreia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *